Sabtu, 06 Juli 2013

SIAPAKAH YANG BERHAK MENENTUKAN AWAL RAMADLAN, SYAWAL DAN DZIL HIJJAH???


Dalam semestinya hanya Pemerintah (dalam hal ini Kementerian Agama Pusat) yang mempunyai wewenang penuh menetapkan/itsbat 01 Ramadlan untuk kewajiban puasa, dan 01 Syawal untuk Idul fitri, juga 01 Dzil Hijjah untuk Idul Adha pada tanggal 10-nya, agar kebersamaan dan kekompakan di masyarakat terjaga, karena itulah yang diajarkan dan digambarkan oleh Junjungan kita Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para Khulafa' Rosyidin, para sahabat, dan para Ulama' Salaf ash-Sholeh (ahlus-sunnah), beliau-beliau selalu mengedepankan kekompakan dan kebersamaan (wal-Jama'ah) dalam hal-hal yang bersifat Jama'iy (kekolektifan), karena mereka mempunyai semboyan "Al-Khilafu Asyaddu/Perbedaan itu Sangatlah Rentan". Hal tersebut sebagaimana telah diterangkan secara detail oleh al-Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam Kitab "at-Tuhfah: (3/374)
وثبوت رؤيته في حق من لم يره يحصل بحكم القاضي بها بعلمه
Namun bilamana ada seseorang yang mengemban udzur untuk mengikuti Itsbat Pemerintah dikarenakan telah melihat sendiri adanya Hilal akan tetapi persaksiannya tidak diterima oleh Majlis Itsbat Pemerintah karena kurang memenuhi syarat dsb, atau seseorang yang membenarkan persaksian tersebut, maka bagi orang tersebut (yang melihat sendiri adanya hilal dan yang membenarkannya) WAJIB memulai Puasa Ramadlan, atau ber-Lebaran dengan catatan TIDAK SECARA TERANG-TERANGAN.
hal tersebut seperti disebutkan dalam Kitab Majmu' lin Nawawi (6/276~mktbah symilah)
وإن رأى هلال شوال وحده أفطر وحده ... ويفطر لرؤية هلال شوال سرا
dan dalam (3/379):
ويلزم الفاسق ومن لا يقبل العمل برؤية نفسه، وكذا من اعتقد صدقه في إخباره برؤية نفسه
maka bisa disimpulkan bahwa kita harus mengikuti keputusan Itsbat Pemerintah Pusat dalam menentukan awal Ramadlan dan Lebaran, dan bagi yang tidak bisa mengikuti ketetapan pemerintah dia boleh mengamalkan ketentuan pribadinya dengan catatan tidak terang2ngan atau mengajak orang lain.

Kita Tunggu Keputusan Pemerintah ...!!!

Minggu, 30 Juni 2013

Cara Yang Semestinya Dalam Membaca Al-Qur'an


قال الله تعالى: (الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
[Surat Al-Baqarah : 121].

Termasuk dari tanda-tanda bahwa seseorang beriman pada Kitab Allah (al-Qur'an al-Karim) ialah membaca al-Qur'an dengan cara yang semestinya, yakni cara membaca yang memang diajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Baginda Nabi, dan oleh Baginda Nabi kepada para Sahabat dan begitu seterusnya sampai pada para Ulama' Salaf maupun kholaf, dan ilmu tersebut dikenal dengan Ilmu Tajwid (ilmu memperbagus bacaan al-Qur'an).

Adapun cara yang semestinya dalam membaca al-Qur'an adalah dengan menjalani tiga perkara:
1. Membaca al-Qur'an dengan cara yang seperti pembacaabn Baginda Nabi, yaitu cara-cara yang telah disebutkan dalam Ilmu Tajwid.
قال تعالى:
(وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا)
Dan bacalah Al Quran itu dengan cara tartil (perlahan-lahan).
[Surat Al-Muzzammil : 4]

2. Mentadaburi (memikirkan) dan memahami apa yang disiratkan dan ditunjukan oleh al-Qur'an bagi yang mengerti, adapun bagi orang yang tidak mengerti akan bahasa arab maka oleh Ulama' dicukupkan dengan merasa adanya Perintah, Larangan, Petunjuk, wejangan, Janji keberuntungan dan ancaman bagi orang yang tidak mengikuti petunjuk al-Qur'an, juga harus merasa bahwa dirinya tidak mengetahui makna-makna al-Qur'an secara detail disebabkan kebodohan dirinya .
قال الله تعالى: (كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ)
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.
[Surat Sad : 29]

3. Mengamalkan petunjuk al-Qur'an.
قال الله تعالى: (ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ)
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
[Surat Al-Baqara : 2]

قال الله تعالى: (إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا)
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,
[Surat Al-Isra : 9]

قال الله تعالى: (وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ)
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
[Surat Ta-Ha : 124]

Haul Akbar Ke-IX Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki

Acara Haul Akbar yang ke-IX dari Wafatnya Mujaddid Ahlissunnah wal Jama'ah Abad 14 H. DR. Prof. al-Imam as-Sayyid Muhammad bin as-Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani al-Makki, yang diselenggarakan oleh salah satu murid senior beliau (KH. Ali Karrar Shinhaji) di Desa Lenteng Kec. Proppo Kab. Pamekasan Madura (PP. Darut Tauhied) berjalan dengan lancar, para muslimin banyak yang hadir dari berbagai daerah di madura, bahkan ada juga yang dari luar madura seperti surabaya, malang, lumajang, pasuruan,... acara dimulai pukul 10 WIS, pembacaan Ihda' tsawabil Jalsah dibacakan oleh KH. Abd. Muqtadir Shinhaji (kakak kandung KH. Ali Karrar) diteruskan dengan pembacaan Fatihah, Yasin dan Tahlil yang dipimpin oleh KH. Djazuli Djzuhari, dilanjutkan dengan pembacaan Manaqib / Biografi Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki yang dibacakan oleh al-Ustdz Muhammad Ali Rahbini (salah satu alumni Abuya Al-Maliki), dan diteruskan dengan Syarafal Anam yang senandungkan oleh Putra-putra KH. Djazuli Jauhari ... dan selanjutnya diisi dengan Taushiyah 'Ilmiyah yang dibawakan oleh Ust. H. Hasanuddin Abd. Lathif Tumpang Malang,sesudah itu oleh Habib Taufiq bin Abd. Qodir as-Segaf Pasuruan .... semoga Tradisi baik (Bid'ah Hasanah) ini bersinambung dan selalu eksis dilakukan oleh para Muslimin ... bagitu juga Tahlilan, Maulid, dan perayaan-perayaan islam yang lain ... karena semua itu adalah rangkuman ibadah-ibadah yang memang dianjurkan oleh syariat untuk melakukannya .... mari kita lestarikan tradisi-tradisi baik seperti ini, dan jadikan moment penting untuk menyampaikan kebaikan kepada umat .... Al-faqir. Ach. Waridi Syadizili ...